Mengapa perlu membina keluarga agar lebih berkualitas ? Keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat. Jika keluarga berkualitas, maka masyarakat pun akan berkualitas. Kalau masyarakat berkualitas, maka negara pun akan berkualitas. Moto "Keluarga Tangguh, Bangsa Tangguh", harus di gelorakan karena keluarga yang tangguh akan dapat mewujudkan bangsa yang tangguh pula. Keluarga akan menjadi tangguh, apabila keluarga itu menerapkan nilai luhur sesuai dengan jiwa dan kepribadian bangsa. Bangsa kita adalah bangsa yang religius, berkarakter tangguh dan memegang teguh nilai-nilai sopan santun dan kebajikan.
Karena itu, pegang teguhlah religiusitas serta nilai-nilai dan watak yang luhur itu di tengah-tengah kebudayaan global yang terus mendera. Kita dihadapkan pada budaya yang seringkali tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur dan kepribadian bangsa. Kehidupan keluarga, harus berhadapan dengan tata nilai dari luar, yang tentu saja akan sangat berbeda dengan kehidupan sosial budaya bangsa . Tentu tidak semua nilai-nilai yang datang dari luar itu buruk. Ada yang membawa manfaat dan mendorong kemajuan. Tidak semua pula nilai-nilai yang diwarisi itu baik. Setiap orang harus pandai memilih dan memilah, mana yang baik dan mana yang buruk. Pada akhirnya nilai-nilai keagamaan dan etika sosiallah yang akan menjadi penentu. Nilai-nilai itu sekali lagi penting untuk memelihara keyakinan beragama dan nilai-nilai sosial terpuji bagi seluruh keluarga.
Untuk mewujudkan keluarga maju, sejahtera dan mandiri, harus diupayakan mengatasi masalah kependudukan. Masalah-masalah kependudukan yang terus-menerus dilakukan, terutama dalam hal pemberantasan kemiskinan, peningkatan program keluarga berencana, peningkatan pendidikan, peningkatan kesehatan keluarga, serta peningkatan berbagai sarana dan prasarana yang menunjang peningkatan kualitas hidup keluarga. Semuanya itu harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dan ditangani secara terpadu. Sebagian keluarga di tanah air, masih mengalami masalah dalam mewujudkan jumlah ideal anggota keluarga. Hal itu tentu saja akan berpengaruh pada pemenuhan aspek pendidikan, kesehatan dan ekonomi keluarga. Jumlah anak di kalangan keluarga yang lebih berpendidikan dan lebih mampu rata-rata dua orang anak. Sedangkan di kalangan keluarga kurang mampu, mencapai rata-rata tiga orang anak. Sebagian masyarakat, ada pula yang memiliki empat sampai lima orang anak, terutama masyarakat yang tinggal di pedesaan dan di kawasan pantai.
Dengan jumlah rata-rata anggota keluarga yang masih cukup banyak bilangannya, maka harus terus diupayakan mengendalikan jumlah penduduk di negara ini agar jumlahnya tidak terlalu banyak. Langkah ini ditempuh untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. Salah satu upaya itu adalah dengan menggalakkan kembali Program Keluarga Berencana. Tentu saja, program KB tidaklah dimaksudkan untuk membatasi jumlah penduduk semata-mata. Lebih dari itu, kita ingin membangun keluarga kecil, keluarga bahagia dan keluarga sejahtera.
Pameo; "banyak anak, banyak rejeki", sudah tidak tepat lagi. Setiap orang harus bijak memahami kondisi saat ini. Tidak perlu membentuk keluarga yang besar dengan jumlah anak yang banyak, jika tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Bagaimana mungkin sebuah keluarga akan sejahtera lahir dan batin, jika banyak anak, sementara pendapatan yang dihasilkan tidak dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Kebutuhan keluarga bukan hanya kebutuhan pangan saja, tetapi juga kebutuhan sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan dan bahkan kebutuhan masa depan anak-anak. Jika tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, sebaiknya pilih keluarga kecil, sedikit anak, namun kehidupannya lebih terjamin. Jika pertumbuhan penduduk terus bertambah dengan laju yang tinggi, maka sangat berat kemampuan ekonomi nasional kita untuk mendukungnya. Hasil pendapatan keluarga tahun 2004 menunjukkan bahwa dari 53,3 juta keluarga, masih terdapat sekitar 30,5% atau setara dengan 16,2 juta keluarga yang termasuk dalam kategori keluarga pra-sejahtera dan sejahtera I. Jadi, tingkat kemiskinan di kalangan masyarakat masih cukup tinggi. Ini antara lain karena krisis yang dialami beberapa tahun yang lalu. Masih banyak keluarga yang belum memiliki pekerjaan, anak-anak putus sekolah dan terjadinya tindak kekerasan dalam keluarga. Keluarga pra-sejahtera dan sejahtera I, keluarga yang tidak memiliki pekerjaan dan banyaknya anak yang putus sekolah, harus diupayakan untuk terus-menerus menguranginya, menuju keluarga yang berkualitas dan keluarga yang sejahtera.
Upaya menuju keluarga sejahtera adalah tanggung jawab kita bersama. pemerintah pusat, pemerintah daerah, pihak swasta, lembaga swadaya masyarakat, organisasi profesi dan keagamaan, serta organisasi PKK, perlu terus-menerus melakukan pembinaan, baik pembinaan mental, spiritual, ekonomi, pendidikan dan kesehatan kepada keluarga pra-sejahtera serta keluarga sejahtera I di seluruh tanah air. Jika semua pihak bersatu, peduli dan memberikan perhatian kepada mereka yang membutuhkan, maka upaya menuju keluarga yang berkualitas dan sejahtera, Insya Allah dapat terwujud.
Berkaitan dengan hal tersebut hendaknya Tim Penggerak PKK dapat memberikan bimbingan dan pembinaan kepada keluarga di seluruh tanah air. Arahkan program-program pembinaan PKK pada pelayanan sosial dasar, terutama pelayanan kesehatan, pendidikan dan peningkatan ekonomi keluarga. Jadikanlah program-program itu sebagai program prioritas Tim Penggerak PKK di berbagai daerah.
BKKBN diharapkan dapat meningkatkan program sasaran prioritas bagi pengembangan pelaksanaan Program KB Nasional. Jangan berpuas diri dengan keberhasilan Program KB saat ini. Jangan berhenti memberikan penyuluhan dan pembinaan tentang pentingnya membatasi jumlah anak dalam keluarga. Buatlah sasaran program prioritas pada upaya pengendalian pertumbuhan penduduk yang berkaitan dengan daya dukung ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan peningkatan kualitas keluarga Indonesia di masa yang akan datang.
Setiap keluarga hendaknya bersama-sama membimbing, membina dan menjaga keluarga masing-masing. Awali kehidupan keluarga dengan membangun suasana keluarga yang tenang dan damai. Jalinlah komunikasi dua arah yang terbuka. Kembangkan semangat belajar, dan semangat kerja keras kepada anak-anak, agar mereka dapat belajar dan hidup mandiri. Agar bangsa menjadi bangsa yang maju, haruslah menjadi bangsa yang cerdas. Agar bangsa cerdas, pendidikan harus baik. Pendidikan yang baik ditandai oleh mutu dan kualitasnya yang baik. Mutu harus ditingkatkan dan tidak boleh berkompromi dengan kualitas, karena tidak akan tertinggal dengan bangsa lain apabila sumber daya manusianya produktif dan berdaya saing. Oleh karena itu marilah bersama-sama, pemerintah, masyarakat luas, organisasi lembaga swadaya masyarakat dan orang tua serta keluarga bersama-sama menyukseskan tugas pendidikan nasional meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan kita.
Sikap sopan santun dan saling menghormati kepada sesama, membangun kehidupan yang harmonis, yang rukun dan damai mulai dari keluarga. Menjauhi diri dan keluarga dari narkoba serta perang terhadap narkoba adalah hal mendasar bagi setiap keluarga saat ini. Pertahankan, kembangkan diri untuk mengukir prestasi. Dengan menyadari arti penting dari peran, fungsi dan kedudukan keluarga dalam masyarakat, keluarga kecil berkualitas yang menjadi tumpuan masa depan bangsa dapat diwujudkan
sumber : http://papuabarat.bkkbn.go.id/Lists/Berita/DispForm.aspx?ID=259&ContentTypeId=0x0100A28EFCBF520B364387716414DEECEB1E


0 komentar:
Posting Komentar